TAJWID DAN TAHSIN

Setelah memahami makna tartil dan tajwid serta hubungan antara keduanya, maka di sini akan dibahas hubungan antara tajwid dengan tahsin, secara khusus. Adapun secara umum, makna keduanya adalah sebagai berikut:

Tajwid berasal dari kata: جَوَّدَ- يُجَوِّدُ- تَجۡوِيدًا, artinya “membaguskan”. Kata “tajwid” memiliki makna yang sama dengan istilah yang sudah populer, yakni “tahsin” yang berasal dari kata: حَسَّنَ – يُحَسِّنُ – تَحۡسِينًا. Artinya, secara umum kedua istilah ini memiliki makna yang sama dan sama-sama bisa dipergunakan dalam istilah pembelajaran Al-Quran. Menurut istilah, makna tajwid atau tahsin secara umum adalah:

إِخۡرَاجُ كُلِّ حَرۡفٍ مِنۡ مَخۡرَاجِهِ مَعَ إِعۡطَائِهِ حَقَّهُ وَ مُسۡتَحَقَّهُ

“Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya beserta memberikan sifat hak dan mustahaknya.” [Taysirurrahmaan Fii Tajwiidil Quran, hal. 23]

Adapun Al-Imam Ibnul Jazariy, dalam Muqaddimahnya memberikan definisi tajwid sebagai berikut:

وَهۡوَ إِعۡطَاءُ ٱلۡحُرُوفِ حَقَّهَا مِن صِفَةٍ لَهَا وَمُستَحَقَّهَا
وَرَدُّ كُلِّ وَاحِدٍ لِأَصۡلِهِ وَٱللَّفۡـظُ فِي نَظِيۡرِهِ كَمِثۡلِهِ
مُكَمَّلًا مِنۡ غَيۡرِ مَا تَكَلُّفِ بِٱللُّطۡفِ فِي ٱلنُّطۡقِ بِلَا تَعَسُّفِ

“Dan tajwid adalah memberikan huruf hak-haknya, dari sifat-sifatnya dan mustahaknya, Serta mengembalikan setiap huruf pada asal (makhraj)nya, dan konsisten membaca lafazh-lafazh yang serupa, Dengan sempurna tanpa takalluf (beban yang berlebihan), dengan halus saat melafazhkannya tanpa melampaui ketentuan (serampangan).”

Adapun secara khusus, Tajwidul Huruf memiliki beberapa tingkatan dalam proses pembelajaran, dimana Tahsinush Shaut (memperbaiki suara) termasuk di dalamnya. Tingkatan pembelajaran Tajwidul Huruf –sebagaimana disampaikan oleh Ust. Muhammad Na’im dalam Daurah Syarh Manzhumah Jazariyyah– adalah: Tahsiinul Huruuf Wash Shaut, Marhaalatut Takmiil, dan Marhaalatul Itqaan.

Tingkatan pembelajaran tajwid ada tiga:

1️⃣ Tahsiinul Huruuf wash Shaut (Perbaikan Huruf dan Suara)

Tahap pertama dalam proses pembelajaran Tajwidul Huruf adalah perbaikan huruf dan suara, dalam hal ini adalah menyempurnakan penguasaan terhadap makharij dan shifatul huruf. Al-Imam Ibnul Jazariy dalam Muqaddimahnya mengatakan:

إذۡ وَاجِبٌ عَلَيۡهِمُ مُحَتَّمُ قَبۡلَ ٱلشُّرُوعِ أَوَّلًا أَن يَعۡلَمُوۡاْ
مَخَارِجَ ٱلۡحُرُوفِ وَٱلصِّفَاتِ لِيَلۡفِظُوۡاْ بِأَفۡصَحِ ٱللُّغَاتِ

“Bahwa kewajiban bagi mereka (para pembaca Al-Quran), sebelum mulai membaca hendaknya untuk terlebih dahulu memahami Makharijul huruf (tempat-tempat keluar huruf) dan sifat-sifatnya, agar bisa melafazhkan (Al-Quran) dengan bahasa yang paling fasih.”

Dalam syair tersebut, Al-Imam Ibnul Jazariy menyebutkan bahwa dua hal yang pertama kali wajib dipelajari oleh para pembaca Al-Quran adalah makharijul huruf dan sifat-sifatnya. Tujuannya adalah agar kita bisa membaca Al-Quran dengan bahasa yang paling fasih, jelas huruf demi hurufnya. Dalam muqaddimah tafsirnya, Al-Hafizh Ibnu Katsir membawakan sebuah riwayat dari Ya’la bin Malik dari Ummu Salamah:

*أَنَّهَا نَعَتَتۡ قِرَاءَةَ ٱلرَّسُولِ ﷺ مُفَسَّرَةً حَرۡفًا حَرۡفًا *

“Sesungguhnya Ummu Salamah mensifati bacaan Rasuulullaah ﷺ (yaitu membaca dengan) memperjelas huruf demi huruf.” [HR.Tirmidzi]

Dalam riwayat yang lain, dari Al-Barra bin ‘Azib: bahwasanya Rasuulullaah ﷺ secara khusus menekankan pada anjuran untuk memper-indah suara saat membaca Al-Quran. Beliau ﷺ bersabda:

زُيِّنُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ بِأصۡوَاتِكُمۡ

“Hiasilah Al-Quran dengan suara-suara kalian.” [HR. Abu Dawud dan Al-Hakim]

Hal ini juga sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Rasuulullaah ﷺ bersabda:

لَيۡسَ مِنَّا مَن لَمۡ يَتَغَنَّ بِٱلۡقُرۡءَانِ

“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang tidak menyenandungkan Al-Quran.” [Muttafaq ‘Alaih]

Memperindah suara saat membaca Al-Quran

Rasuulullaahi ﷺ bersabda:

زُيِّنُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ بِأصۡوَاتِكُمۡ

“Hiasilah Al-Quran dengan suara-suara kalian.” [HR. Abu Dawud dan Al-Hakim]

Hal ini juga sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Rasuulullaah ﷺ bersabda:

لَيۡسَ مِنَّا مَن لَمۡ يَتَغَنَّ بِٱلۡقُرۡءَانِ

“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang tidak menyenandungkan Al-Quran.” [Muttafaq ‘Alaih]

Kedua riwayat di atas memiliki kesamaan maksud dan tujuan, yakni anjuran untuk memperindah suara dan bacaan saat membaca Al-Quran. Pendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama. Al-Imam An-Nawawi dalam Syarh Muslim dan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari mengutip dari Al-Imam Asy-Syafi’i, bahwa yang dimaksud يَتَغَنَّ بِٱلۡقُرۡآنِ adalah “Membaguskan suara saat membacanya.” Al-Hafizh memberikan komentar, “Maksudnya adalah tahsin dan tartil.” Artinya, bukan sekedar melagukannya dengan suara yang merdu, namun juga mesti memenuhi kaidah-kaidah tajwid yang benar.

Lebih dari itu, Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad (I/ 492-493) menyatakan bahwa melagukan Al-Quran terbagi menjadi dua: Pertama, melagukan Al-Quran secara alamiah, membaguskan pengucapan huruf demi hurufnya tanpa memaksakan diri dan bukan dengan langgam-langgam musik tertentu yang memberatkan pembaca Al-Quran. Inilah yang dianjurkan oleh Rasuulullaah ﷺ berdasarkan riwayat-riwayat tentang permasalahan ini.

Adapun yang kedua, yakni melagukan Al-Quran dengan langgam-langgam musik tertentu yang orang-orang butuh mempelajarinya secara khusus, dimana hal tersebut merupakan takalluf. Para ulama terdahulu berlepas diri dari langgam-langgam seperti ini. Syaikh Ayman Rusydi Suwaid dan Syaikh Ahmad Isa Al-Mi’sharawi hafizhahumallaah menyetujui pendapat ini, bahwa melagukan Al-Quran dengan langgam-langgam musik tertentu yang dipelajari secara khusus bukanlah sebuah kebaikan. Syaikh Shalih Fauzan, Syaikh Abdullah bin Bazz, dan Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini lebih keras lagi dalam melarang penggunaan langgam-langgam musik tertentu dalam membaca Al-Quran.

Oleh karena itu, bagi kita yang memiliki suara biasa-biasa saja, dalam artian tidak semerdu para Qari yang sanggup melantunkan Al-Quran dengan indah, tidak perlu hilang kepercayaan diri, karena permasalahan suara hakikatnya adalah bakat dan anugerah yang diberikan oleh Allaah ﷻ kepada siapa yang Dia kehendaki. Apa yang harus kita latih adalah kejelasan vokal antara satu huruf dengan huruf yang lainnya. Bahkan, inilah yang sebetulnya dikehendaki dari apa yang dinukil pada beberapa riwayat di atas.

Ketahuilah, berkaitan dengan tahsiinul huruuf wash-shaut, para pembaca Al-Quran terbagi menjadi empat golongan:

1. Orang yang mengamalkan kaidah-kaidah tajwid dan membaguskan suaranya,

  1. Orang yang mengamalkan kaidah-kaidah tajwid namun suaranya biasa-biasa saja,
  2. Orang yang suaranya merdu namun tidak mengamalkan kaidah-kaidah tajwid,
  3. Orang yang tidak mengamalkan kaidah-kaidah tajwid dan suaranya biasa-biasa saja.

Bila suara kita biasa-biasa saja, maka jangan sampai kita menjadi golongan yang keempat. Minimal kita harus berusaha mencapai golongan kedua dan terus belajar untuk termasuk ke dalam golongan pertama.

Biasanya, di kalangan masyarakat pada umumnya, golongan ketiga lebih diutamakan daripada golongan kedua. Padahal, di antara keduanya terdapat jarak dan perbedaan yang jauh, bahwasanya golongan kedua jauh lebih utama dan lebih mulia di hadapan Allaah ﷻ .

Sumber:
📚 Tajwidul Quran Edisi Lengkap
✍🏻 Abu Ezra Laili Al-Fadhli

Leave a Comment