MABADI ILMU TAJWID

(المبادئ العشرة لعلم التجويد)

👤 Berkata Ibnush Shabbaan:

إنّ مَبَادِئَ كُلِّ فَنٍّ عَشرَة الحدُّ والمَوضُوعُ ثُمّ الثَّمرَة
وَفَضلُهُ وَنِسبَةُ وَالوَاضِع الِاسمُ الِاستِمدَادُ حُكمُ الشَّارِع
مَسَائلُ والبَعضُ بِالبَعضِ اكتَفَى وَمَن دَرَى الجَمِيعَ نَالَ الشَّرَفَا

Sesungguhnya mabadi setiap ilmu ada sepuluh Batasan (definisi), pokok bahasan, dan buahnya Keutamaan, nisbah, dan penemunya, Nama, sandaran, dan hukum syar’inya Serta permasalahannya, siapa yang memahami sebagiannya cukup baginya. Dan siapa yang memahami seluruhnya, maka ia akan meraih kemuliaan

1⃣. Batasan (Definisi) :

Secara bahasa :
Kata tajwid merupakan bentuk masdar dari kata :
جَوَّدَ- يُجَوِّدُ- تَجۡوِيدًا,
artinya:“membaguskan”.

Kata “tajwid” memiliki makna yang sama dengan istilah yang sudah populer, yaitu “tahsin” yang berasal dari kata:
حَسَّنَ – يُحَسِّنُ – تَحۡسِينًا

Sedangkan secara istilah, tajwid bermakna:

إِخۡرَاجُ كُلِّ حَرۡفٍ مِنۡ مَخۡرَاجِهِ مَعَ إِعۡطَائِهِ حَقَّهُ وَ مُسۡتَحَقَّهُ
“Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya beserta memberikan sifat hak dan mustahaknya.” [Taysirurrahmaan Fii Tajwiidil Quran, hal. 23]

Hak huruf adalah sifat lazimah yaitu sifat yang senantiasa menyertai huruf (Tsabit) dan tidak akan terpisan darinya dalam setiap keadaan. seperti sifat hams , jahr, syiddah, rakhawah dan istifal.

Mustahak huruf adalah sifat ‘aridhah yaitu sifat yang sewaktu-waktu muncul yang diakibatkan oleh sifat lazimah dan letak makhraj pada huruf tertentu.
-Seperti sifat tafkhim dan tarqiq pada bacaan yang diakibatkan oleh sifat isti’la dan istifal.
-Seperti idgham saat pertemuan dua huruf yang sama makhraj dan sifat ( mutamatsilain), sama makhraj beda sifat (mutajanisain) atau berdekatan makhraj berbeda sifat (mutaqaribain).
-Seperti idzhar saat bertemunya nun sukun atau tanwin dengan huruf halq yang letaknya berjauhan (mutabaidain).

2⃣. Pokok bahasan ilmu Tajwid :

Mencakup kalimat Al-Quran dengan memberikan hak beserta mustahak huruf-hurufnya tanpa disertai dengan takalluf atau ta’assuf dalam pengucapannya karena ini adalah salah satu bentuk penjagaan wahyu.

3⃣. Buah Manfaat mempelajari ilmu Tajwid:

Menjaga lidah dari lahn (kesalahan ketika membaca Al-Quran), menjaga keaslian Al-Quran, dan mengharapkan ridha & pahala dari Allaahu Ta’ala.

4⃣. Keutamaan :

Salah satu ilmu yang paling mulia karena berhubungan dengan Kalamullah.

5⃣. Nisbah (korelasi dan hubungan dengan ilmu yang lain) :

Ilmu tajwid merupakan ilmu syar’i yang berhubungan dengan Al-Quran Al-Karim. Ilmu syari yang mulia ini datang dari Allah ta’ala dengan hukum-hukumnya untuk menjaga kemurnian Al Quran dari segi bacaannya.

6⃣. Penemu dasar ilmu tajwid secara praktik:

Rasulullah Muhammad Shallaahu ‘alaihi wasallam, karena beliau bertalaqqi langsung kepada malaikat jibril ‘alaihi as salaam dan jibril kepada Allah ta’ala. Kemudian para sahabat bertalaqqi kepada Rasulallah dan tabiin bertalaqqi kepada para sahabat dan terus turun temurun hingga sampai kepada kita sekarang dengan tajwid dan tartil.

Peletak dasar ilmu tajwid secara teori:
terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang siapa peletak pertama teori ilmu tajwid , dibawah ini adala para imam-imam terdahulu yang dianggap sebagai generasi awal peletak teori ilmu tajwid :
Abul Aswad Ad-Duali
• Hafsh bin Umar Ad duriy
• Abu Ubaid Al-Qasim
• Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi
• Abu Muzahim Musa bin Ubaydillah Al-Khaqani

7⃣. Namanya : Ilmu Tajwid

8⃣. Sandaran :

Dari tatacara praktik bacaan rasulillaah shallaahu ‘alaihi wasallam, tatacara ini sampai kepada kita dengan jalan periwayatan yang mutawatir yang diterima dari para sahabat para tabiin para masyaikh para ulama yang sanadnya tersambung kepada rasulallah.

9⃣. Hukum mempelajari tajwid:

  • Mempelajari secara teori dari hukum-hukum tajwid fardhu kifayah.
  • Hukum mengamalkan tajwid ketika membaca Al Quran Fardhu ‘ain bagi setiap pembaca al quran dan dalil-dalil tentang wajibnya membaca Al Quran antara lain :

📌 Dalil dari Al Qur’an :
وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا [QS. Muzammil, 73: 4]

📌 Dalil dari Sunnah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : (مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ ، يَجْهَرُ بِهِ) .

رواه البخاري (6989) ومسلم (1319)

“Tidaklah Allah mendengarkan sesuatu sebagaimana Allah mendengarkan Nabi-Nya membaguskan bacaan Al-Qur’an dan mengeraskan suaranya” (HR. Al Bukhari 7544, Muslim 792)

📌 Ijma’ :

Tidak ditemukan bahwa Rasulullah, para sahabat, tabiin para ulama qiraat bahwa mereka membaca tanpa mad atau ghunnah atau hukum-hukum tajwid yang sudah sangat dikenal atasnya. Oleh karena para imam-imam qiraat sepakat tidak diperbolehkannya membaca Al Qur’an tanpa tajwid.

🔟. Permasalahan Ilmu tajwid :

Permasalahan yang akan dibahas adalah kaidah-kaidah ilmu tajwid yang sudah ditetapkan oleh para ulama qiraah.

🌐 Sumber :
📗. kitab taisirurr rahman fii tajwidil quran
📘. kitab At Tuhfah Al Maalikiyyah fii talkhish Ushuli riwayah hafsh ‘an ashim min thariq Asy Syatibiyyah
📙. Tajwid Lengkap Asy syafii

Leave a Comment